Drone dibanding semprot manual dan traktor
Drone bukan jawaban untuk semua lahan. Ini perbandingan yang jujur.

| Drone | Tangki punggung | Traktor / boom | |
|---|---|---|---|
| Sawah tergenang | Bisa, tanpa menginjak lahan | Bisa, tapi lambat dan berat | Umumnya sulit |
| Kontak pekerja dengan pestisida | Pilot di pinggir lahan | Pekerja di tengah kabut semprot | Operator di kabin |
| Volume air | Rendah (contoh: 20 L/ha dalam uji IPB) | Tinggi (200 L/ha dalam uji yang sama) | Menengah sampai tinggi |
| Kerusakan tanaman | Tidak ada jejak roda | Jalur injakan | Jejak roda di baris |
Angka yang bisa dicek
Penelitian IPB University di Bogor mencatat waktu kerja drone 0,61 sampai 0,66 jam per hektare, dibanding 5,28 sampai 5,39 jam per hektare untuk penyemprotan manual. Penelitian di sawah MADA, Kedah, Malaysia, mencatat total waktu 24 jam dengan drone dibanding sekitar 80 jam secara manual, dengan kebutuhan tenaga dari empat orang menjadi satu.
Batasannya
- Kapasitas tangki terbatas, jadi perlu banyak pengisian ulang.
- Sangat dipengaruhi angin dan hujan.
- Tidak semua produk pestisida cocok atau dianjurkan untuk aplikasi udara; label tetap acuan utama.
Sumber
- Andryan dkk. (2025), Comparison of pesticide manual spraying with drone application on rice, IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 1528 012017
- Rosedi & Shamsi (2022), Comparative Efficacy of Drone Application in Chemical Spraying at Paddy Field MADA Kedah, IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 1059 012002