Drone Field Spraying Indonesia

Drone dibanding semprot manual dan traktor

Drone bukan jawaban untuk semua lahan. Ini perbandingan yang jujur.

Drone pertanian menyemprotkan kabut halus di atas sawah hijau di samping pohon kelapa
Foto: Shreesha Sharma, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
DroneTangki punggungTraktor / boom
Sawah tergenangBisa, tanpa menginjak lahanBisa, tapi lambat dan beratUmumnya sulit
Kontak pekerja dengan pestisidaPilot di pinggir lahanPekerja di tengah kabut semprotOperator di kabin
Volume airRendah (contoh: 20 L/ha dalam uji IPB)Tinggi (200 L/ha dalam uji yang sama)Menengah sampai tinggi
Kerusakan tanamanTidak ada jejak rodaJalur injakanJejak roda di baris

Angka yang bisa dicek

Penelitian IPB University di Bogor mencatat waktu kerja drone 0,61 sampai 0,66 jam per hektare, dibanding 5,28 sampai 5,39 jam per hektare untuk penyemprotan manual. Penelitian di sawah MADA, Kedah, Malaysia, mencatat total waktu 24 jam dengan drone dibanding sekitar 80 jam secara manual, dengan kebutuhan tenaga dari empat orang menjadi satu.

Batasannya

  • Kapasitas tangki terbatas, jadi perlu banyak pengisian ulang.
  • Sangat dipengaruhi angin dan hujan.
  • Tidak semua produk pestisida cocok atau dianjurkan untuk aplikasi udara; label tetap acuan utama.

Sumber

  1. Andryan dkk. (2025), Comparison of pesticide manual spraying with drone application on rice, IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 1528 012017
  2. Rosedi & Shamsi (2022), Comparative Efficacy of Drone Application in Chemical Spraying at Paddy Field MADA Kedah, IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 1059 012002

Ingin tahu apakah lahan Anda cocok untuk drone? Minta penawaran